Senin, 18 November 2013

KEHIDUPAN JAKARTA

Jakarta kota metropolitan, kerasnya kehidupan, sarangnya kejahatan, dan disanalah aku tinggal sekarang. Disanalah aku merasakan kerasnya hidup ini, betapa sulitnya mencari uang, betapa mahalnya harga sebuah makanan, dan di tambah lagi barang barang yang menggiurkan untuk di beli.

Inilah kisahku selama aku hidup di jakarta, dimulai dari mencari sebuah kost untuk tinggal, harga kostku 800 ribu perbulan kamar mandi dalam, dan bebas bawa barang elektronik tanpa tambah ongkos untuk listrik. Awalnya kost lebih murah karena aku tinggal berdua dengan temanku satu kamar. Selang beberapa bulan temanku pindah kost di dekat tempat kerjanya, dan kini tinggallah aku sendirian yang harus menanggung kost ini.

Lima Tiga bulan pertama itu semua terasa berat dengan gaji yang pas pas'an sekitar 1,5 juta. Bisa anda bayangkan 1,5 juta sebulan dikurangi 800 ribu per bulan sisanya sekitar 700 ribu. Karena makan di jakarta 10 ribu paling murah aku rasa, dan waktu itu aku belum membawa magicom jadilah aku beli bisa dihitung 1 bulan hanya untuk makan sekitar 600 ribu untuk sehari dua kali makan. Belum lagi kalau ingin ngemil, dan untuk beli kebutuhan yang lain lain.

Terkadang aku merasa ingin menyerah dengan kerasnya hidup ini, tapi seolah keluargaku paham akan itu, sehingga mereka selalu mensupport aku. Di jakarta ini aku hidup sendiri, tanpa keluarga dekat. Beberapa bulan kemudian gajiku naik menjadi 2 juta, ini masih lumayan cukup gak cukup di cukup cukupkan. Dan ga tau kenapa gaji 2 juta itu selalu habis sebelum masuk bulan berikutnya, mungkin aku yang terlalu boros. Dari situlah aku selalu berusah belajar untuk ga boros, meskipun itu susah, tapi bukan berarti ga mungkin kan.

Aku mau memulai dengan menyimpan uang gajian tiap bulan 100 ribu. Aku berkeinginan untuk buka tabungan haji, karena menurutku antri untuk naik haji itu panjang, jadi aku putuskan untuk coba mendaftar dari sekarang. Kadang aku coba coba buat ikut lomba, siapa tau bisa menang, kan lumayan untuk tambahan ongkos naik haji :D.

Setiap hari rasanya ridu sekali sama rumah, pengennya bisa pulang tiap bulan, tapi itu terlalu banyak memakan biaya, dan lagi bisa bisa cutiku habis buat pulang lagi. Pengen banget bisa nonton arema bareng temen temen lagi, tapi tiap pulang ga pernah pas main aremanya. Sekarang kalau pulang hanya sendirian, tak ada lagi teman, tak ada lagi sahabat, karena mereka semua pada merantau bahkan ada yang sudah berkeluarga. Hiburanku di rumah yah hanya dengan adikku, keluargaku, kamarku yang selalu aku kangenkan, dan yang pasti masakan ibuku yang paling enak yang pernah aku cicipi :D

Kangen kalo lagi ngunjungin nenekku, kadang ga ikut masuk rumah soalnya aku tidur di dalem mobil. Sekarang baru terasa kangennya setelah jauh dari mereka orang orang yang menyayangiku. Untungnya disini aku ga pernah merasa sesendiri itu, soalnya ada rekan kerja yang selalu mencoba membantu mengatasi masalah yang aku hadapi, yang kadang juga berbagi tawa. Solusi247 itu rumah kedua yang paling nyaman setelah rumah orang tuaku, ketika di kantor itu aku merasakan banyak hal baru, pelajaran baru, teman baru, petualangan baru, dan banyak lagi yang baru.

Maksud hati ingin kuliah, tapi raport belum di ambil, jadi ga tau mau mulai kuliah kapan. Apalagi pihak sekolah yang mempersulit buat lihat nilai raport di PDSS aja ga di kasih passwordnya. Seandainya aku bisa pulang, udah aku ambil dari kemaren kemaren. Sebetulnya aku merasa salah masuk jurusan, karena sejujurnya aku ingin banget jadi seorang dokter, tapi aku nyasar ke jurusan TKJ. Tapi sampai saat ini aku masih mengusahakan supaya apa yang aku cita citakan bisa aku gapai. Aku tau itu emang ga mudah, tapi aku akan berusaha, meskipun biaya buat kuliah kedokteran bisa di bilang ga murah juga, tapi aku yakin allah akan ngasih rejeki untuk hambanya yang sabar.

Harapanku aku bisa kuliah jurusan kedokteran di UGM, semoga alam semesta mendukung, dan allah merestui aku agar bisa masuk di UGM. Hanya saja terkadang aku mikir, kalo aku ketrima di UGM bagaimana biaya kuliah, sedangkan aku punya dua adik yang masih harus sekolah lagi, dan harus membeli susu, perjalanan mereka lebih panjang. Karena itu aku harus mulai belajar berhemat dari sekarang, untuk masa depan yang lebih cerah. Kadang juga coba coba buat wirausaha, tapi sejauh ini masih ga laku laku yang aku jual, tapi aku rasa semuanya emang butuh kesabaran :).




Sekilas kisahku di ibu kota Jakarta, 19 November 2013

0 komentar:

Posting Komentar